Premium Perlahan Menghilang, Apakah Ulah Pertamina?
Bahan bakar sangatlah vital bagi kendaraan bermotor, meski emak sudah lama sekali beralih ke BBM non Subsidi seperti pertamax & pertamax plus yang sekarang telah berganti menjadi pertamax turbo menyesuaikan dengan spesifikasi mesin. Namun tidak dipungkiri masih ada pengguna yang tetap memilih premium meski secara specs angka oktannya tidak cocok untuk motor dan mobil mereka. Semua karena Premium masih subsidi dan harganya tentu lebih murah dibandingkan yang non subsidi seperti pertalite, pertamax, & pertamax turbo.
Kini pengguna premium sering emak temukan mengeluh di sosial media karena semakin sulit mencari SPBU yang berjualan premium. Mereka menuduh pertamina sengaja ingin menghilangkan premium dari peredaran dan hanya menjual yang non subsidi. Emak jadi kepo nih apakah benar seperti itu ataukah ada faktor lain?
Langsung saja emak hubungi beberapa rekan yang memiliki usaha SPBU. Perlu kita ketahui bersama tidak semua SPBU Pertamina itu merupakan murni dibawah usaha Pertamina Langsung. Beberapa adalah swasta yang bekerja sama dengan membeli hak dagang. Dari omong-omong emak bersama mereka disimpulkan beberapa sebab berikut mengapa premium makin langka dari SPBU.
Pertama, dari pihak Pertamina tetap mewajibkan SPBU untuk berjualan premium, jadi tuduhan tersebut tidak benar, namun juga tidak 100% salah. Karena penurunan jumlah SPBU yang berjualan premium semakin sedikit juga masih terkena andil dari kebijakan Pertamina sendiri saat mereka mengeluarkan pertalite.
Kedua, dengan hadirnya pertalite banyak pengendara yang sebelumnya menggunakan premium beralih ke pertalite yang non subsidi namun harga jualnya tidak setinggi pertamax namun kualitasnya jauh diatas premium. Jadi di kota-kota besar trendnya beralih bahan bakar non subsidi, dari yang sebelumnya ngincip pertalite dirasa mesinnya lebih bertenaga jadi enggan balik ke premium. Bahkan banyak yang dari sekedar ngincip jadi naik kelas ke pertamax
Ketiga, kendaraan saat ini sudah 90% lebih yang menggunakan sistem injeksi. Penggunaan premium membuat sistem injeksi cepat kotor oleh kerak sisa pembakaran yang kurang sempurna. Sehingga penggunanya beralih ke pertalite atau pertamax yang menyebabkan growth penjualan non subsidi menjadi lebih tinggi daripada yang subsidi.
Keempat, tentunya SPBU swasta melihat adalah keuntungan, dengan semakin tingginya permintaan akan yang non subsidi dibandingkan permintaan premium di kota-kota besar. Tentunya mereka mengurangi stand untuk premium dan menggantinya dengan pertalite dan pertamax yang lebih diminati. Karena adanya aturan harus tetap menjual premium saat ini pengusaha SPBU rata-rata menyisakan 1-2 stand saja yang menjual premium.
Hal inilah yang menyebabkan premium terkesan langka dipasaran terutama kota besar. Meski tidak mungkin jika trend ini terus berlangsung bisa saja kebijakan pertamina & pemerintah berubah dan menghapus premium. Namun untuk saat ini kelangkaan SPBU adalah karena pilihan pengusaha SPBU yang merasa menjual non subsidi lebih laku daripada subsidi.
Kini pengguna premium sering emak temukan mengeluh di sosial media karena semakin sulit mencari SPBU yang berjualan premium. Mereka menuduh pertamina sengaja ingin menghilangkan premium dari peredaran dan hanya menjual yang non subsidi. Emak jadi kepo nih apakah benar seperti itu ataukah ada faktor lain?
Langsung saja emak hubungi beberapa rekan yang memiliki usaha SPBU. Perlu kita ketahui bersama tidak semua SPBU Pertamina itu merupakan murni dibawah usaha Pertamina Langsung. Beberapa adalah swasta yang bekerja sama dengan membeli hak dagang. Dari omong-omong emak bersama mereka disimpulkan beberapa sebab berikut mengapa premium makin langka dari SPBU.
Pertama, dari pihak Pertamina tetap mewajibkan SPBU untuk berjualan premium, jadi tuduhan tersebut tidak benar, namun juga tidak 100% salah. Karena penurunan jumlah SPBU yang berjualan premium semakin sedikit juga masih terkena andil dari kebijakan Pertamina sendiri saat mereka mengeluarkan pertalite.
Kedua, dengan hadirnya pertalite banyak pengendara yang sebelumnya menggunakan premium beralih ke pertalite yang non subsidi namun harga jualnya tidak setinggi pertamax namun kualitasnya jauh diatas premium. Jadi di kota-kota besar trendnya beralih bahan bakar non subsidi, dari yang sebelumnya ngincip pertalite dirasa mesinnya lebih bertenaga jadi enggan balik ke premium. Bahkan banyak yang dari sekedar ngincip jadi naik kelas ke pertamax
Ketiga, kendaraan saat ini sudah 90% lebih yang menggunakan sistem injeksi. Penggunaan premium membuat sistem injeksi cepat kotor oleh kerak sisa pembakaran yang kurang sempurna. Sehingga penggunanya beralih ke pertalite atau pertamax yang menyebabkan growth penjualan non subsidi menjadi lebih tinggi daripada yang subsidi.
Keempat, tentunya SPBU swasta melihat adalah keuntungan, dengan semakin tingginya permintaan akan yang non subsidi dibandingkan permintaan premium di kota-kota besar. Tentunya mereka mengurangi stand untuk premium dan menggantinya dengan pertalite dan pertamax yang lebih diminati. Karena adanya aturan harus tetap menjual premium saat ini pengusaha SPBU rata-rata menyisakan 1-2 stand saja yang menjual premium.
Hal inilah yang menyebabkan premium terkesan langka dipasaran terutama kota besar. Meski tidak mungkin jika trend ini terus berlangsung bisa saja kebijakan pertamina & pemerintah berubah dan menghapus premium. Namun untuk saat ini kelangkaan SPBU adalah karena pilihan pengusaha SPBU yang merasa menjual non subsidi lebih laku daripada subsidi.

Comments
Post a Comment