Rame Mobil Esemka
Sejak kemunculannya mobil Esemka selalu digadang-gadang oleh media sebagai mobil nasional (mobnas). Namun itu sebenarnya salah kaprah. Sebenarnya dari awal ini sebenarnya ajang pelatihan anak-anak SMK agar mereka dapat menjadi tenaga ahli bersertifikasi yang kemudian bekerja di pabrik-pabrik perakitan mobil yang ada di Indonesia. Banyak lho pabrik perakitan mobil yang berbasis di Indonesia, tidak hanya brand Jepang saja bahkan brand Jerman seperti BMW juga buka pabrik perakitan di Indonesia. Jadi pelajaran merakit ini memang diberikan kepada mereka, agar setelah lulus dapat bekerja di pabrik-pabrik tersebut.
Salah paham terjadi saat waktu itu Jokowi yang masih menjabat walikota Surakarta membeli mobil rakitan SMK tersebut sebagai mobil dinas. Langsung oleh media & masyarakat yang mendambakan adanya mobil nasional, mobil rakitan anak SMK ini digadang-gadang sebagai mobil nasional. Yang kemudian mobil rakitan ini saat dilakukan uji kelayakan tidak lolos untuk beberapa hal, pertama adalah tidak lolos uji emisi yang artinya gas buangnya diatas ambang yang ditetapkan. Kemudian juga dianggap bobotnya terlalu berat sehingga tidak layak jalan. Setelah itu berita mobil Esemka seakan tenggelam.
Sebenarnya project mobil esemka ini tidaklah berhenti. terus dilanjutkan karena penting sekali untuk melatih anak-anak SMK dalam perakitan mobil & motor yang setiap tahunnya terus tumbuh & membutuhkan banyak tenaga ahli.
Yang sebenarnya menjadi masalah bagi mobil Esemka itu bukan pada produk menurut emak, namun ekspetasi berlebihan pada masyarakat yang terbentuk karena pemberitaan yang tidak pada porsinya. Sedari awal emak sadar bahwa ini adalah pelatihan perakitan mobil. Namun dari berita-berita yang beredar pada 2009 lalu seakan ini adalah pembuatan mobil. Sehingga masyarakat bahwa ini adalah benar-benar mobil nasional yang semuanya dibuat sendiri. Masyarakt menjadi kecewa & marah saat beberapa kali terungkap bahwa sebenarnya anak-anak ini hanya merakit onderdil yang dibeli oleh sekolahnya dari RRC. Karena onderdil ini dibeli secara protolan dari RRC tentu saja bentuknya sama dengan mobil-mobil produksi China. Masyarakat kemudian merasa tertipu. Namun siapakah yang benar-benar menipu masyarakat? benarkah pihak sekolah & anak-anak tersebut? Tentu tidak. Sedari awal mereka hanya mengaku merakit & mengecat. Namun pemberitaan berlebihan lah yang membentuk opini bahwa sekolah SMK tersebut luar biasa sekali mampu membuat semuanya dari NOL.
Ekspetasi yang berlebihan inilah yang membuat masyarakat gerah saat lagi-lagi terungkap bahwa anak-anak yang berbakat tersebut hanya merakit. Ke-awaman masyarakat kita mengenai industri terutama industri otomotif itulah yang lagi-lagi selalu dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan oplah mereka. Saat pertama diisukan sebagai mobil nasional yang diuntungkan tentu media. Saat kemudian media membongkar bahwa ternyata sekolah tersebut hanya membeli onderdil dari China & anak-anak hanya merakitnya, sekali lagi yang diuntungkan tentu media.
Dan saat ini saat kembali diramaikan mengenai mobil Esemka dengan kode Garuda 1 yang termasuk dalam golongan SUV itu memiliki kesamaan yang sangat mirip dengan mobil china kembali yang diuntungkan adalah media massa.
Masyarakat kita harusnya mengapresiasi kemampuan anak-anak tersebut dalam merakit mobil, tanpa perlu menghujat mereka karena membeli onderdil protolan dan tidak membuatnya sendiri. Sebab untuk membuat rancangan mobil dari nol itu memerlukan jenjang pendidikan khusus yang melibatkan banyak disiplin ilmu, yang tentunya semua ilmu itu tidak bisa diberikan dalam waktu 3 tahun di SMK.
Mari kita dukung mereka sepantasnya, sebab mereka juga dapat menjadi pondasi saat ada pengusaha yang memutuskan untuk membuat pabrikan mobil dengan merk sendiri. Keberadaan tenaga kerja ahli pada lini produksi ini sangatlah penting.
Tentunya yang emak harapkan kedepannya adalah Indonesia dapat memiliki merk mobil sendiri dengan kualitas yang lebih baik dari proton yang dimiliki malaysia.

Comments
Post a Comment